Tuesday, 15 March 2016

interview w/ sebumi


Hasil wawancara dengan Bapak Iben Yuzenho selaku Founder dari Sebumi.

History

Berawal dari sebuah Organisasi berbasis pure social bernama EcoIndonesia. EcoIndonesia mempunyai satu goal besar yakni mendukung konservasi lingkungan, namun dalam hal ini, sebagai Sebuah organisasi yang mengangkat  / berbasis sosial, tidak mengambil profit / keuntungan. 
Lahirlah sebuah unit usaha ekoturisme bernama  Sebumi, yang berisikan / didirikan pula oleh para pencetus dari eco Indonesia.
Jika ecoindonesia itu masuk dalam kategori pure social, maka sebumi masuk kedalam kategori social business. Walaupun sebenarnya keduanya berdiri terpisah, namun keberadaan dua sisi ini saling memberikan ikatan mutualisme,  Tidak hanya sebumi bagi Eco Indonesia, namun juga sebaliknya, dimana EcoIndonesia sebagai sebuah organisasi yang sudah berpengalaman , sudah banyak melakukan perjalanan-perjalanan berbasis eco travelling yang juga sudah memberi dampak bagi lingkungan dan masyarakat lokal. Seperti contohnya, ecoIndonesia sempat membantu keberlangsungan koperasi lokal di kawasan tanjung puting, dikarenakan ecoindonesia sempat sudah cukup berpengalaman dalam membawa dan mengajak para ecotourist untuk berkunjung ke tempat2 tersebut.
Nantinya, fokus utama konservasi akan dilakukan di daerah penyangga taman nasional, karena area tini merupakan perbatasan antara alam dengan sosial / masyarakat secara langsung, tak jarang pula dalam area ini sering sekali terjadi konflik.
Dalam hal ini dapat dilakukan dengan dimulai dari  upaya peremajaan, pembuatan kawasan penyangga hingga  pemberian edukasi baik diluar wilayah hingga edukasi lokal.
Sebumi sebagai perusahaan yang memegang teguh label ecotourism, sangat konsisten dan wajib dalam menyampaikan makna dari label ecotourism tersebut. Salah satunya dilakukan dengan melakukan sebuah perjalanan yang selalu mengajak kontribusi konsumennya,
Jika di segmentasikan, sebumi membagi marketnya berdasarkan Individual dan group
Individual yakni :
Umur
Teenager, Undergraduate, 15 – 20 , Unisex , Urban , Ses A-B
Condition : punya waktu, terbatas biaya
Young Adult, Fresh Graduate, first jober, 20 – 35 , Unisex, Urban, Ses A-B
Condition : Mampu secara biaya, terbatas waktu
Regional
Local & Foreigner
Ø  Dipisahkan karena pada dasarnya, perilaku keduanya tidak sama.
Local >> a lot of them tend to travelled based on leisure
Foreigner >> karena mungkin mereka jauh juga tinggalnya, jadi motif nya biasanya lebih ke arah konservasi dan peduli lingkungan.

Group yakni :
School  >> pariwisata edukasi
Organization >> outing  dsb
Institution
Story didalam sebumi, not just the message, but it is the way to deliver the brand / core message of the brand,
Story dalam case ini adalah dimana cerita merupakan satu kesatuan dari kesuluruhan rangkaian aktifitas yang terkait yang mampu mengikat experience bagi konsumennya,
Dimulai dari seorang konsumen berangkat, melakukan perjalanan, mendapat informasi seputar insight didalam taman nasional, melakukan / hands on / contribute dalam melakukan sesuatu bagi kelangsungan lingkungan taman nasional, hingga setelah kembali pulang, konsumen memiliki ceritanya sendiri, untuk dijadikan pengalaman berkesan hingga disampaikan lagi kepada orang lain dan berputar, dan begitu seterusnya. 
Cerita dimulai dari, cerita lokal, cerita dibalik kondisi sebuah taman nasional, menjadi sangat penting

Contoh : di desa sekonyer, ada cerita bahwa orang-orang pendatang itu banyak yang bekerja di industri kelapa sawit, dalam kasus ini ladang kelapa sawit sudah merambah hingga wilayah konservasi orang utan.
Di desa sekonyer pun, melihat orang utan bukan lagi sesuatu yang aneh, layaknya melihat seeekor ayam, di pagi hari mereka sudah biasa melihat orang utan dihalaman depan rumahnya untuk mencari makan, tak jarang pula, warga lokal merasa terganggu dan memperlakukan orang utan layaknya “ayam”, banyak kasus penembakan dan pembunuhan orang utan oleh warga lokal.
Namun saat ini sudah lebih mending, karena secara perlahan, masyarakat mulai teredukasi dengan manfaat yang didapat dari ikut memelihara keberlangsungan nilai keanekaragaman hayati tersebut. Mereka mulai teredukasi akan potensi baik secara profit hingga keseimbangan alam yang juga berpengaruh bagi hidup mereka.
Nah, dengan cerita-cerita tersebut lah, bagaimana sebumi mencoba melibatkan simpati para turis/ wisatawan yang berlibur dengan sebumi, tidak hanya sekedar foto2 , post di sosial media, namun tidak ada keterikatan secara batin terhadap isu lingkungan tempat wisata itu sendiri.
At some level, cerita-cerita tersebut tidak hanya di konsumsi oleh konsumen sebumi, namun juga bagi para calon konsumennya, namun tetap pada batasan tertentu, tidak terlalu detail, karena disinilah juga yang dijadikan “jualan” / produknya bagi sebumi.
Disinilah pula dimana sebumi ikut berkontribusi bagi keuntungan lokal, cerita – cerita / insight2 kelingkungan yang tidak komersil tersebut di fasilitasi/di ceritakan oleh warga lokal secara langsung, secara konsisten sebumi menggait komunitas / masyarakat lokal untuk ikut berkontribusi dan sharing tentang tempat / alam taman nasional sekitar mereka sebagai tour guide.
Along the way, jika sebumi sudah memiliki konsumen yang cukup , when the consumer become something, then you have your own interesting story, you can share it to the society, and sebumi we’ll be happy to featured your story / publish your story through our communication media.
So far, hingga akhir tahun ini, sebumi masih mencakup 11 taman nasional, jumlah tersebut akan terus berkembang hingga mencapai cakupan ke 50 taman nasional di selruh indonesia.
Ada problem : Orang biasanya mau jalan ke taman nasional, tapi, pas udah sekali jalan rata – rata mereka  ga tertarik untuk coba taman nasional yang lain, dengan anggapan bahwa setiap taman nasional ya gitu-gitu aja.

SEHINGGA : challenge juga buat sebumi, gimana caranya supaya, membangun spirit dan curiousity si konsumen terhadap taman nasional, dengna mengangkat keunikan setiap taman nasional yang ada, agar setiap konsumen dapat terus penasaran dengan apa yang ada di masing – masing taman nasionalt
Namun hal ini juga dapat menjadi
Opportunity :
dengan cerita tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa keunikan” cerita” atau sejarah dibalik kondisi suatu taman nasional, pasti berbeda antara satu dengan yang lainnnya, keanekaragaman cerita dengan kekayaan sudut pandang mampu menghasilkan sesuatu yang tidak monoton, memberikan kesan keunikan bagi setiap taman nasional yang dikunjungi.  
Challenge : Tapi ya selain itu juga tentu harus menyajikan dan menggali info detail tentang pemasaran suatu taman nasional
case :
Taman laiwangi tuh marketingnya keren banget,  padahal  kalo dipikir2, burung yang ada di laiwangi itu bisa aja / lebih mudah di temuin di taman nasional lain .

Challenge yg ada :
Developing product yang masih belum sempurna
Masukin, ajak target untuk engage hingga ke peduli lingkungan
Communicating the product
Karena ekowisata, berhadapan dengna alam, jadi untung-untungan
Membantu mencapai tujuan utama nya sebumi, tapi ga destructing baik dari sisi product development sampe experience yang di bangun
Karena ada pembicaraan bahwa, wisata itu sebenernya merusak, disinilah dimana sebumi harus ngejual ecotourism, tapi full of meaning behind it. Pertama, disaat balik, konsumen harus,
Get the message
Reduce impact of their activity while being there
Contribute to local communities and conservation actitivity
HOW?
Dengan cara, ngasih informasi cukup
Facilitate them to tho good things

Opportunity :
Plan :
Mungkin mau punya rencana buat augmented reality  gt di situs penyangga nya.

Opportunity:
 ada omongan kalo teknologi emang ga baik, tapi, sebenernya bisa diliat dari sisi lain, how we actually use it, bisa dijadikan kesempatan untuk berbuat good thing dan justru menjadi lebih terdukur dan not another way around” )

Plan : Situs penyangganya mau dibranding

Ada rencana, mungkin buat gimmick yang sesuai, buat merchandise travel kit >> didalemnya, sabun ramah lingkungan, shampo ramah lingkungan , handuk, sampe ada kantong sampah karena
Sempet ada
Problem : didalam taman nasional itu banyak sampah sebenernya,
Jadi disini mungkin konsumen bisa juga di engage kesadarannya dengan ada gimmick tersebut.

Dalam komunikasi sebumi juga punya 4 elemen yang dijadikan keyword utama dalam cara bersikap / wajah yg menggambarkan sebumi dan konsumen sebumi yaitu
Young at heart
Biodiversity Enthusiast
Care for the environment
Wildlife adventurer

Dalam hal ini, baik mengajak masyarakat luas yang memiliki nilai ke 4 elemen tersebut untuk bergabung / jalan dengan sebumi, namun juga dapat dijadikan nilai yang di harapkan dapat terinjeksi bagi wisatawan yang sudah mengikuti perjalan bersama sebumi.
Kesuksesan value produk dan konsumen only if we can connect with consumer, bring the same value, we can actually sale our product.
Karena pada dasarnya, by appreciating > we connecting with nature, then by connecting with nature, we can connect with ourselves.          





No comments:

Post a Comment