Hasil wawancara dengan Bapak Iben Yuzenho selaku Founder
dari Sebumi.
History
Berawal
dari sebuah Organisasi berbasis pure social bernama EcoIndonesia.
EcoIndonesia mempunyai satu goal besar yakni mendukung konservasi lingkungan, namun dalam hal
ini, sebagai Sebuah organisasi yang mengangkat
/ berbasis sosial, tidak mengambil profit / keuntungan.
Lahirlah sebuah
unit usaha ekoturisme bernama Sebumi,
yang berisikan / didirikan
pula oleh para pencetus dari eco Indonesia.
Jika ecoindonesia itu masuk dalam kategori pure social, maka
sebumi masuk kedalam kategori social business.
Walaupun sebenarnya keduanya berdiri terpisah, namun keberadaan dua sisi ini
saling memberikan ikatan
mutualisme, Tidak hanya sebumi
bagi Eco Indonesia, namun juga sebaliknya, dimana EcoIndonesia sebagai sebuah
organisasi yang sudah berpengalaman , sudah banyak melakukan
perjalanan-perjalanan berbasis eco travelling yang juga sudah memberi dampak
bagi lingkungan dan masyarakat lokal. Seperti contohnya, ecoIndonesia sempat
membantu keberlangsungan koperasi lokal di kawasan tanjung puting, dikarenakan
ecoindonesia sempat sudah cukup berpengalaman dalam membawa dan mengajak para
ecotourist untuk berkunjung ke tempat2 tersebut.
Nantinya, fokus utama konservasi akan dilakukan di daerah penyangga taman
nasional, karena area tini merupakan perbatasan antara alam dengan sosial / masyarakat secara
langsung, tak jarang pula dalam area ini sering sekali terjadi konflik.
Dalam hal ini dapat dilakukan dengan dimulai dari upaya peremajaan, pembuatan kawasan penyangga
hingga pemberian edukasi baik diluar
wilayah hingga edukasi lokal.
Sebumi sebagai perusahaan yang memegang teguh label
ecotourism, sangat konsisten dan wajib dalam menyampaikan makna dari label
ecotourism tersebut. Salah satunya dilakukan dengan melakukan sebuah perjalanan
yang selalu mengajak kontribusi konsumennya,
Jika di segmentasikan, sebumi membagi marketnya berdasarkan
Individual dan group
Individual
yakni :
Umur
Teenager,
Undergraduate, 15 – 20 , Unisex , Urban , Ses A-B
Condition
: punya waktu, terbatas biaya
Young
Adult, Fresh Graduate, first jober, 20 – 35 , Unisex, Urban, Ses A-B
Condition
: Mampu secara biaya, terbatas waktu
Regional
Local
& Foreigner
Ø Dipisahkan karena pada dasarnya,
perilaku keduanya tidak sama.
Local
>> a lot of them tend to travelled based on leisure
Foreigner
>> karena mungkin mereka jauh juga tinggalnya, jadi motif nya biasanya
lebih ke arah konservasi dan peduli lingkungan.
Group
yakni :
School >> pariwisata edukasi
Organization
>> outing dsb
Institution
Story
didalam sebumi, not just the message, but it is the way to deliver the brand /
core message of the brand,
Story dalam case ini adalah dimana cerita merupakan satu kesatuan dari kesuluruhan
rangkaian aktifitas yang terkait yang mampu mengikat experience bagi
konsumennya,
Dimulai
dari seorang konsumen berangkat, melakukan perjalanan, mendapat informasi
seputar insight didalam taman nasional, melakukan / hands on / contribute dalam
melakukan sesuatu bagi kelangsungan lingkungan taman nasional, hingga setelah
kembali pulang, konsumen memiliki ceritanya sendiri, untuk dijadikan pengalaman
berkesan hingga disampaikan lagi kepada orang lain dan berputar, dan begitu
seterusnya.
Cerita dimulai dari, cerita lokal, cerita dibalik kondisi
sebuah taman nasional, menjadi sangat penting
Contoh : di desa sekonyer, ada cerita bahwa orang-orang
pendatang itu banyak yang bekerja di industri kelapa sawit, dalam kasus ini
ladang kelapa sawit sudah merambah hingga wilayah konservasi orang utan.
Di desa sekonyer pun, melihat orang utan bukan lagi sesuatu
yang aneh, layaknya melihat seeekor ayam, di pagi hari mereka sudah biasa
melihat orang utan dihalaman depan rumahnya untuk mencari makan, tak jarang
pula, warga lokal merasa terganggu dan memperlakukan orang utan layaknya
“ayam”, banyak kasus penembakan dan pembunuhan orang utan oleh warga lokal.
Namun saat ini sudah lebih mending, karena secara perlahan,
masyarakat mulai teredukasi dengan manfaat yang didapat dari ikut memelihara
keberlangsungan nilai keanekaragaman hayati tersebut. Mereka mulai teredukasi
akan potensi baik secara profit hingga keseimbangan alam yang juga berpengaruh
bagi hidup mereka.
Nah, dengan cerita-cerita tersebut lah, bagaimana sebumi
mencoba melibatkan simpati para turis/ wisatawan yang berlibur dengan sebumi,
tidak hanya sekedar foto2 , post di sosial media, namun tidak ada keterikatan
secara batin terhadap isu lingkungan tempat wisata itu sendiri.
At some
level, cerita-cerita tersebut tidak hanya di konsumsi oleh konsumen sebumi,
namun juga bagi para calon konsumennya, namun tetap pada batasan tertentu,
tidak terlalu detail, karena disinilah juga yang dijadikan “jualan” / produknya
bagi sebumi.
Disinilah
pula dimana sebumi ikut berkontribusi bagi keuntungan lokal, cerita – cerita /
insight2 kelingkungan yang tidak komersil tersebut di fasilitasi/di ceritakan
oleh warga lokal secara langsung, secara konsisten sebumi menggait komunitas /
masyarakat lokal untuk ikut berkontribusi dan sharing tentang tempat / alam
taman nasional sekitar mereka sebagai tour guide.
Along the way, jika sebumi sudah memiliki konsumen yang
cukup , when the consumer become something, then you have your own interesting
story, you can share it to the society, and sebumi we’ll be happy to featured
your story / publish your story through our communication media.
So far, hingga akhir tahun ini, sebumi masih mencakup 11 taman nasional,
jumlah tersebut akan terus
berkembang hingga mencapai cakupan ke 50 taman nasional di selruh indonesia.
Ada problem : Orang biasanya mau jalan ke taman nasional, tapi, pas udah sekali jalan
rata – rata mereka ga tertarik untuk
coba taman nasional yang lain, dengan anggapan bahwa setiap taman nasional ya
gitu-gitu aja.
SEHINGGA : challenge juga buat sebumi, gimana caranya supaya, membangun spirit dan
curiousity si konsumen terhadap taman nasional, dengna mengangkat keunikan
setiap taman nasional yang ada, agar setiap konsumen dapat terus penasaran
dengan apa yang ada di masing – masing taman nasionalt
Namun hal ini juga dapat menjadi
Opportunity :
dengan cerita tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa
keunikan” cerita” atau sejarah dibalik kondisi suatu taman nasional, pasti
berbeda antara satu dengan yang lainnnya, keanekaragaman cerita dengan kekayaan
sudut pandang mampu menghasilkan sesuatu yang tidak monoton, memberikan kesan
keunikan bagi setiap taman nasional yang dikunjungi.
Challenge : Tapi ya selain itu juga tentu harus menyajikan
dan menggali info detail tentang pemasaran suatu taman nasional
case :
Taman laiwangi tuh marketingnya keren banget, padahal
kalo dipikir2, burung yang ada di laiwangi itu bisa aja / lebih mudah di
temuin di taman nasional lain .
Challenge yg ada :
Developing product yang masih belum sempurna
Masukin, ajak target untuk engage hingga ke peduli
lingkungan
Communicating the product
Karena ekowisata, berhadapan dengna alam, jadi
untung-untungan
Membantu mencapai tujuan utama nya sebumi, tapi ga
destructing baik dari sisi product development sampe experience yang di bangun
Karena ada pembicaraan bahwa, wisata itu sebenernya merusak,
disinilah dimana sebumi harus ngejual ecotourism, tapi full of meaning behind
it. Pertama, disaat balik, konsumen harus,
Get the message
Reduce impact of their activity while being there
Contribute to local communities and conservation actitivity
HOW?
Dengan cara, ngasih informasi cukup
Facilitate them to tho good things
Opportunity :
Plan :
Mungkin mau punya rencana buat augmented reality gt di situs penyangga nya.
Opportunity:
ada omongan kalo
teknologi emang ga baik, tapi, sebenernya bisa diliat dari sisi lain, how we
actually use it, bisa dijadikan kesempatan untuk berbuat good thing dan justru
menjadi lebih terdukur dan not another way around” )
Plan : Situs penyangganya mau dibranding
Ada rencana, mungkin buat gimmick yang sesuai, buat
merchandise travel kit >> didalemnya, sabun ramah lingkungan, shampo
ramah lingkungan , handuk, sampe ada kantong sampah karena
Sempet ada
Problem : didalam taman nasional itu banyak sampah
sebenernya,
Jadi disini mungkin konsumen bisa juga di engage
kesadarannya dengan ada gimmick tersebut.
Dalam komunikasi sebumi juga punya 4 elemen yang dijadikan
keyword utama dalam cara bersikap / wajah yg menggambarkan sebumi dan konsumen
sebumi yaitu
Young at heart
Biodiversity Enthusiast
Care for the environment
Wildlife adventurer
Dalam hal ini, baik mengajak masyarakat luas yang memiliki
nilai ke 4 elemen tersebut untuk bergabung / jalan dengan sebumi, namun juga
dapat dijadikan nilai yang di harapkan dapat terinjeksi bagi wisatawan yang
sudah mengikuti perjalan bersama sebumi.
Kesuksesan value produk dan konsumen only if we can connect
with consumer, bring the same value, we can actually sale our product.
Karena pada dasarnya, by appreciating > we connecting
with nature, then by connecting with nature, we can connect with ourselves.
No comments:
Post a Comment